
“Perayaan hari ini kiranya dimaknai juga sebagai sebuah momentum introspeksi. Fundasi introspeksinya adalah tentang tugas dan profesi kita sebagai sebuah panggilan. Pada zaman ini, jamak terjadi, di mana kita lebih memikirkan upah yang tinggi dan menguntungkan daripada memberi diri untuk sebuah pelayanan yang tulus. Akhirnya, kita jatuh pada formalisme, larut dalam rutinitas, dan mengabaikan tanggung jawab kita yang sebenarnya,” (Pater Bovan)
Ket. Foto: RP. Bonivantura Y. Lelo, OFM saat membawakan kotbah pada misa pembukaan tahun ajaran baru bagi semua sekolah di wilayah paroki Karot, Sabtu (08/8/2026) (Foto: Sipri Kantus)
Ruteng - Komsos Paroki Karot – Pastor Paroki St. Fransiskus Assisi Karot, Pater Bonivantura Y. Lelo, OFM (Pater Bovan) sentil krisis panggilan dan ego sektoral yang merambah lembaga-lembaga pendidikan. Hal itu disampaikannya dalam kotbahnya pada misa pembukaan tahun ajaran baru 2026/2027 yang melibatkan seluruh sekolah di wilayah parokinya, Sabtu (08/8/2026).
“Perayaan hari
ini kiranya dimaknai juga sebagai sebuah momentum introspeksi. Fundasi
introspeksinya adalah tentang tugas dan profesi kita sebagai sebuah panggilan. Pada
zaman ini, jamak terjadi, di mana kita lebih memikirkan upah yang tinggi dan
menguntungkan daripada memberi diri untuk sebuah pelayanan yang tulus. Akhirnya,
kita jatuh pada formalisme, larut dalam rutinitas, dan mengabaikan tanggung
jawab kita yang sebenarnya,” tegas Pater Bovan.
Krisis ini, lanjutnya, tidak boleh dianggap sepele, sebab ketika kita ada bersama dalam perayaan ini, kita datang dan ada bersama sebagai gereja yang dipanggil dan diutus oleh Kristus sendiri. Bukan hanya biarawan, para suster, dan rohaniwan yang menjalankan tugas panggilan, melainkan kita semua, teristimewa kita yang di pundaknya dipercayakan sebuah tanggung jawab besar nan mulia untuk mendidik generasi ini, jelasnya.
Pater Bovan juga
menjelaskan bahwa tema perayaan yang menempatkan Yesus sebagai Guru Sejati itu
mengandung serta ajakan untuk mendengarkan suara-Nya, belajar dari-Nya, dan berjalan
bersama-Nya. Itu berarti, semua sepakat mengakui dan menerima Dia sebagai
satu-satu-Nya guru dan dengan itu kita semua menjadi satu.
“maka, yang perlu bagi kita sekarang adalah jalan bersama. Kita harus keluar dari penyanderaan ego sektoral yang membuat kita jalan sendiri-sendiri. Saya sangat apresiasi inisiatif kolaborasi ini. Dalam semangat perjalanan bersama kita akan saling belajar, saling menolong, dan menopang untuk kemajuan pendidikan kita,” katanya.
Selain sentil dua
isu itu, pada akhir Kotbahnya, Pater Bovan mengajak semua guru dan tenaga
pendidikan untuk melihat apa yang masih kurang dalam pengabdiannya. Ia juga
mengingatkan sekali lagi tentang pentingnya iman dan kesetiaan kepada Yesus
sang guru sejati.
“Tuhan Yesus selalu menyertaimu, seperti Ia juga menyertai Petrus yang takut akan gelombang pasang, seperti yang sudah kita dengarkan dalam injil tadi. Ada masa di mana kita juga mengalami gelombang kehidupan itu. Percayalah Yesus menyertai kita. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya, dan semua hal baik akan terjadi pula pada setiap orang yang percaya,” demikian Pater Bovan.
Leo Cardis yang mewakili seluruh Panitia, para guru, dan para siswa menyampaikan terima kasih untuk kolaborasi lembaga pendidikan dalam membuka tahun ajaran baru kali ini. Selain berharap agar lembaga-lembaga pendidikan berkontribusi bagi pembangunan manusia dan gereja, Leo juga mengingatkan peristiwa ini sebagai momentum untuk menumbuhkan komitmen perjalanan bersama untuk mengawali tugas serta panggilan sebagai pendidik dan pelayan dalam Tuhan sendiri.
Perayaan ekaristi
kolaboratif ini dilanjutkan dengan resepsi bersama di Aula Paroki Karot. Resepsi
ini juga menjadi kesempatan untuk memperlihatkan talenta para pendidik yang
disalurkan dengan penuh cinta dalam diri anak-anak yang membawakan lagu,
tarian, dan aneka acara hiburan lainnya. (sipri kantus)