
“Pada zaman ini, kesetiaan dan komitmen hidup bersama itu tidak mudah. Apalagi perkawinan katolik yang tidak mentolerir perceraian. Kita menikah berarti mau menerima tanggung jawab yang bermula dari komitmen pada janji sehidup semati dengan pasangan masing-masing,”
Pater Rio ketika menyajikan materi kursus perkawinan, Jumat (24/4/2026 di Aula Paroki St. Fransiskus Assisi Karot
Ruteng, Paroki Karot - Bukan resepsi, melainkan komitmen pada janji nikah. Pesan ini disampaikan
oleh Vikaris Parokial (Pastor Rekan) Paroki St. Fransiskus Assisi Karot, Pater
Rio Edison, OFM dalam kegiatan Kursus Persiapan Perkawinan Katolik (KPPK) di
Aula Paroki tersebut, Jumat (24/4/2026).
Kepada 19 Calon Pasutri, Pater Rio yang membuka kegiatan ini mewakili Pastor
Paroki Karot Pater Bovan menegaskan bahwa kursus persiapan
perkawinan ini tidak boleh dipandang hanya sebagai prosedur rutin dalam proses
perkawinan, tetapi harus sungguh-sungguh jadi kesempatan penting untuk
mempersiapkan diri.
“Dua hari ini, saya ingin tegaskan soal motivasi
saudara-saudari. Saya perlu tegaskan, kursus selama dua hari ini mesti
dimanfaatkan secara serius sebagai persiapan untuk mematangkan niat hidup
bersama. Oleh karena itu, momentum kursus ini harus jadi kesempatan yang baik
untuk menimba pengetahuan dasar hidup berumah tangga, khususnya persiapan hidup
bersama sebagai pasangan katolik,” tegas Pater Rio.
Dalam materinya tentang perkawinan sakramental dan liturgi
perkawinan, Pater Rio juga mengingatkan tantang perkawinan katolik di zaman
modern ini. Menurut Pater Rio, perkawinan katolik dewasa ini tidaklah mudah.
“Pada zaman ini, kesetiaan dan komitmen hidup bersama itu
tidak mudah. Apalagi perkawinan katolik yang tidak mentolerir perceraian. Kita
menikah berarti mau menerima tanggung jawab yang bermula dari komitmen pada
janji sehidup semati dengan pasangan masing-masing,” katanya. “Mari berterus
terang manakala ada hal-hal yang perlu diluruskan dalam persiapan perkawinanmu,”
tambahnya.
Selain materi dasar terkait sifat dan tujuan perkawinan
sakramental katolik, dalam kursus yang diselenggarakan selama dua hari ini,
para peserta kursus juga dibekali dengan pengetahuan tentang komunikasi efektif
dalam keluarga, pentingnya doa dan membaca kitab suci, ekonomi rumah tangga,
psikologi hidup berkeluarga, kesehatan reproduksi, pendidikan anak, dan
perkawinan dalam tradisi Manggarai.
Pino Jebarus selaku ketua penyelenggara KPPK ini menyampaikan apresiasinya kepada semua narasumber atau fasilitator yang terlibat dalam penyajian materi kursus. “Semoga materi-materi kursus dan juga pengalaman hidup berkeluarga yang disharingkan bisa menjadi bekal dalam persiapan perjalanan rumah tangga para peserta.
Menutup kegiatan kursus ini, Pater Rio juga menitipkan pesan kepada para peserta untuk tetap menjalin komunikasi dengan para imam di paroki masing-masing, bila ada kendala terkait persiapan pernikahan. “Saya yakin, waktu dua hari memang tidak cukup untuk kita semua. Sekiranya ada halangan, para pastor di paroki masing-masing sangat terbuka untuk mendengarkan dan mencari solusi atas masalah atau hal-hal yang belum jelas dalam persiapan perkawinan sauadara-saudari,” tutupnya. (Sipri Kantus)