Kunjungi Paroki Karot, Vikaris General OFM Merasa Senang Dengan Program Pastoral Basis

“Program basis yang telah disampaikan sangat menarik. Dengan itu, kita tidak hanya perhatikan pembangunan fisik atau gedung, tetapi yang lebih penting membangun manusianya setiap hari. Memperkuat komunitas basis hingga mencapai persekutuan seperti cara hidup orang-orang kristen perdana,” demikian Pater Ignacio.

Ket: Vikaris General OFM, Pater Ignacio Ceja Jimenez ketika menerima Tuak Curu dalam di halaman Pastoran Paroki Karot

Ruteng – Komsos Paroki Karot - Suasana dialog yang hangat dan penuh persaudaraan mewarnai kunjungan Vikaris General Ordo Fratrum Minorum (OFM), Pater Ignacio Ceja Jiménez dan Definitor OFM Indonesia Pater Andreas Ata Wolo ke Paroki St. Fransiskus Assisi,  Jumat (26/6/2026). Di Pendopo Pastoran Karot, Pater Ignacio merasa sangat senang dan terpikat ketika mendengarkan para wakil umat yang sangat antusias mendukung program pastoral basis yang digagas bersama dengan Pastor Paroki Pater Bonivantura Y. Lelo, OFM, sebuah program sekaligus pendekatan yang menyentuh langsung denyut nadi kehidupan iman umat di tingkat bawah.


“Program basis yang telah disampaikan sangat menarik. Dengan itu, kita tidak hanya perhatikan pembangunan fisik atau gedung, tetapi yang lebih penting membangun manusianya setiap hari. Memperkuat komunitas basis hingga mencapai persekutuan seperti cara hidup orang-orang kristen perdana,” demikian Pater Ignacio.


Sekilas tentang Pastoral Basis di paroki Karot

Dua tahun lalu (19/1/2025), ketika menjadi tuan rumah kegiatan arisan dan natal bersama 7 Paroki Gugus Kota Ruteng, dalam sebuah sharing pastoral, Pastor Paroki Karot Pater Bonivantura Y. Lelo, OFM mempresentasikan Program Pastoral basis atau pastoral akar rumput kepada para imam dan pegiat pastoral yang hadir. Mengutip suara para uskup se-Asia (FABC), Pater Bovan mengatakan Paroki Karot juga akan menjalankan pastoral basis sebagai tindak lanjut dari konferensi para uskup yang melihat KBG sebagai locus sekaligus fokus pastoral.

Pastoral KBG, lanjut Pater Bovan, sedemikian mendesak di tengah budaya populer seperti konsumerisme, individualisme, dan sekularisme yang semakin menguat. Dalam tiga konteks tantangan ini, umat sering keliru memahami tugasnya sebagai gererja. Bahkan mereka menerima dirinya sebagai obyek pelayanan bukan subyek pastoral sebagaimana gereja yang bersatu dengan misi. Maka, untuk Paroki Karot, tegas Pater Bovan, Pastoral akar rumput ini menjadi fokus perhatian. Kita akan turun ke basis dan memberdayakan umat agar mereka, komunitas basis menjadi locus praksis lima pilar gereja: persekutuan, pelayanan, pewartaan, pengudusan, dan kesaksian. Dan kita mulai dari pemberdayaan para pengurus, misalnya menjadi pemimpin katekese dalam komunitasnya, tidak harus menunggu katekis atau orang dari luar komunitasnya.

Praksis Pastoral Basis di Paroki Karot


Pastoral basis sudah dimulai sejak tahun 2024, dimulai dengan pembangunan patung santo dan santa sebagai identitas KBG dan sebagai sarana doa serta katekese. Tahun 2025, kurang lebih selama 8 bulan (Maret-Oktober), Pastor, Pengurus DPP-DKP, Penyuluh Agama melaksanakannya lagi. Pastoral basis telah menjangkau semua umat di 84 KBG yang tersebar di Pusat paroki dan 2 Stasi yaitu Stasi St. Padre Pio Kenda dan St. Antonius Padua, Watu Alo.

Pastoral basis yang dilaksanakan di setiap KBG meliputi: Perayaan ekaristi, pemberkatan rumah, benih, ternak, dan barang-barang rohani umat, serta dialog dengan umat terkait dengan pemahaman tentang gereja sebagai umat Allah dan gereja sebagai institusi. Dalam dialog dengan umat, kita mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan umat, rupa-rupa tantangan yang mereka alami, kekecewaan mereka dengan para gembala, dan kadang kita memperoleh input yang sangat baik dan visioner dari mereka terkait program pastoral. Bagi kami, dialog dengan umat juga menjadi momentum untuk mengurangi gosip. Sebab kami berpikir, gosip-gosip itu bertahan karena ruang untuk membicarakannya memang tidak dibuka.

Pastoral KBG juga menjadi kesempatan kita menjadikan komunitas basis tempat bertumbuhnya solidaritas, subsidiaritas, dan compassio. Ini adalah ajaran sosial gereja yang harus hidup dalam komunitas seperti terjadi dalam kehidupan jemaat perdana sebagai model. Berkat pastoral basis, solidaritas ini terwujud. Umat di KBG saling membantu satu dengan yang lain. Mereka juga menyepakati berdoa bersama sekali dalam seminggu. Dalam pertemuan itu solidaritas juga diwujudkan melalui arisan, dan usaha bersama simpan pinjam (UBSP). Dengan arisan setiap minggu, rasanya lebih ringan ketika sebagai gereja harus bertanggung jawab untuk memberi bagi pembangunan-pembangunan fisik dalam terang gereja sebagai institusi manusiawi. Melalui pastoral KBG, meski tidak secepat dan sekilat cahaya, namun kami percaya, melalui inisiatif dan konsistensi, perubahan itu akan terjadi: Gereja dalam umat, bukannya umat dalam gereja.

Masih di pendopo Pastoran Karot, Pater Ignacio dan Pater Andreas yang juga bertindak sebagai penerjemah dalam dialog persaudaraan ini mendengarkan sharing umat tentang manfaat pastoral basis ini. Di hadapan keduanya, umat juga menceriterakan gerakan-gerakan kreatif terkait dengan penanganan sampah yang melibatkan pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan di wilayah Paroki karot.


Pater Ignacio sangat berterima kasih dan memberikan apresiasi atas kontribusi para awam di Paroki Karot.

“Saya merasa semua yang telah disampaikan itu sangat baik. Pesan untuk membangun, memperkuat komunitas dan persaudaraan ada di sini. Kita berguru pada Yesus. Dialah sumber dan pusat dari misi dan pewartaan. Dan misi mewartakan kabar gembira ini bukan tanggung jawab fransiskan saja, tetapi tanggung jawab kita semua, tanggung jawab gereja,” kata Pater Ignacio.


Menutup dialog persaudaraan ini, Pater Andreas menambahkan informasi penting berkenaan dengan Peringatan Tahun Paskah Fransiskus Assisi. “Kunjungan ini juga erat kaitannya dengan peringatan Paskah Fransiskus Assisi Tahun 2026. Delapan abad yang lalu dia telah beralih dari sini ke surga. Dan Pater Vikaris mengingatkan kita untuk meneruskan pesan injil yang diwariskannya agar dihidupi dan menjadi pedoman ziarah semua umat beriman,” jelas Pater Andre. (Sipri Kantus) 



Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT