Keruntuhan Menara Babel: Provokasi Historis-Etik Untuk Tetap Menjadi Manusia

"Kalau hari ini, generasi kita menolak berjuang dan menderita, respon terhadapnya tidak semestinya berhenti pada umpatan: “mereka memang tidak mau menderita”. Mengapa tidak boleh berhenti di sana? Ini bukan sekadar trend. Ini persoalan basis berkaitan dengan sesuatu yang hakiki. Sesuatu itu adalah nilai dan makna penderitaan. Nilai dan makna itu hilang, menguap dari dalam keluarga, dalam masyarakat hingga dari negara sekaligus."

Oleh: Sipri Kantus - Penyuluh Agama Katolik

Hari-hari ini, saya sedang menikmati isi ensiklik pertama Paus Leo XIV Magnifica Humanitas, tentang perlindungan terhadap martabat pribadi manusia di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Melalui ensiklik ini, Paus Leo mengajak dunia untuk masuk dalam sebuah momentum discernment: membedakan dan membaca tanda-tanda zaman (discernment), secara khusus dampak dari perkembangan kecerdasan buatan (selanjutnya baca: AI) terhadap kehidupan manusia dan keputusan-keputusan yang diambilnya dalam kehidupan bersama di dunia.

Merujuk pada ensiklik ini, untuk saya pribadi, menarik untuk disimak dan dijadikan acuan adalah rujukan biblis yang dipakai sebagai acuan untuk melihat, menilai, dan mengambil keputusan yakni keruntuhan menara Babel dan pembangunan kembali kota Yerusalem yang runtuh. Kedua teks ini menjadi rujukan untuk menggambarkan situasi dan kondisi relevan sekaligus tidak mengabaikan makna historisnya. Kehancuran Babel pada satu sisi adalah fakta sejarah tentang keangkuhan manusia, sementara itu pembangunan kembali kota Yerusalem yang runtuh di bawah kepemimpinan Nabi Nehemia di sisi yang lain, adalah kiat restoratif yang hari ini dikampanyekan oleh Paus Leo XIV.

Pada zaman ini, pembangunan kembali menara babel itu sudah dimulai. Watak pembangunan kembali menara itu terungkap dalam monopoli teknologi untuk kepentingan kekayaan ekonomi serentak dehumanisasi. Ketika sistem-sistem perusahaan tertentu yang berorientasi pada penguasaan semua sumber daya tidak diimbangi dengan kerangka berpikir etik, dunia menjadi tidak berimbang. Negara yang dibelakangnya dibeking oleh perusahaan-perusahaan berlabel teknologi AI dengan latah mengklaim diri sebagai adidaya dan panglima dunia. Klaim itu kini berujung pada ekspansi, agresi, dan penaklukan. Kemajuan teknologi tanpa kemajuan etik menghasilkan ironi dan tragedi kemanusiaan. Di sana, kemajuan tidak sesungguhnya membantu manusia. Lebih sering kemanusiaan itu dijadikan jargon dan jalan agar sebuah hegemoni bisa diterapkan tanpa disadari, dengan akibat yang juga tidak dapat dibayangkan sebelumnya.  

Menara babel modern itu kini semakin tinggi dan wataknya terungkap dalam setiap perjalanan atau orbit yang tidak ingin terkejar oleh yang lain. Menara itu adalah individualisme, hedonisme, konsumerisme, sekularisme, relativisme, dan imperialisme. Sejumlah isme yang disebutkan ini adalah antipode dari tuntutan relasi-sosial-kemanusiaan seperti kebaikan bersama, solidaritas, subsidiaritas, martabat manusia, dan keadilan sosial yang semakin merosot di dunia saat ini. Nilai-nilai ini ada dalam setiap kitab agama dan negara. Sering dirujuk sebagai visi, namun hasilnya lebih sering tinggal sebagai visi belaka. Seperti setiap orang mendambakan perdamaian, tetapi selalu rumit dalam berpikir untuk melakukan keadilan, padahal perdamaian tanpa keadilan itu tidak mungkin.    

Kita memang tidak menyaksikan keruntuhan itu, namun kini, dalam rupa yang lain keruntuhan itu mengisi dunia kita dan terpampang jelas di etalase bumi dan isinya yang dieksploitasi secara beringas oleh kekuatan-keuatan egoisme dan kelompokisme. Babel adalah gambaran orang yang berhasrat mencari nama dan membangun kenyamanan serentak ketertutupan kelompok. Di hadapan kita, dunia terpolarisasi ke dalam sekutu, teristimewa sekutu-sekutu bisnis yang digerakkan oleh imperium dan supremasi teknologi. Manusia digantikan mesin dan dibiarkan bergelut dan bertarung tanpa jalan keluar yang adil dan humanis. Perbedaan dan keberagamaan terus dicurigai sebagai ancaman, persekutuan direduksi ke dalam persatuan yang sempit dengan motif sektarian.

Seperti kehancuran babel, kehancuran modernisme dan perkembangannya yang bebas dari kontorol etik dan riligius semakin nyata. Keutuhan dunia terancam oleh peperangan, bumi semakin keropos akibat eksploitasi yang tidak dibimbing oleh prinsip-prinsip sosial, dan landasan etik hidup bersama global tidak kunjung disepakati oleh kekacauan cara berpikir dan tindakan yang mendominasi yang lain. Itulah gambaran khaos yang sudah ada dalam kekacauan bahasa dan keseragaman dalam menara babel. Allah tidak memperkenankan persatuan sempit dan godaan naik ke atas untuk meninggalkan yang lain oleh hasrat “mencari nama” dan keagungan diri. Dalam konteks ini, asumsi ini relevan: kalau kamu terlalu jauh ke atas, kamu bukan hanya bertarung dengan tiupan angin yang kencang, yang berarti melawan kodrat alam, juga menerima resiko jatuh dan hancur oleh kemustahilan merebut posisi tertinggi yang tidak pernah disiapkan untuk manusia biasa yang berarti terbatas. Entah cepat atau lambat, kamu akan jatuh oleh hasrat naif akan kontraposisi itu.

Proyek Nabi Nehemia adalah antitesis dari proyek menara babel. Pada zaman Nehemia, kota Yerusalem sudah runtuh. Kota itu adalah simbol persekutuan dan basis religius. Yesus juga pernah menangis melihat nasib Yerusalem. Kehancurannya digambarkan dengan sangat tragik: tidak ada satu batu pun yang tergeletak di atas batu yang lain. Kembali dari pembuangan, Nehemia tidak langsung membangun. Dia turun ke tingkat paling bawah yaitu keluarga. Di sana ia duduk bersama dengan keluarga, memulihkan relasi-relasi, sampaikan visi, dialog, dan membagi harapan. Yerusalem dibangun kembali bukan dengan pendekatan paternalistik, melainkan partisipatif, subsidiaritas, demokratis, dan egaliter.

Dalam skop discerment ini, coba kita hadir sepenuhnya dalam keluarga kita masing-masing.   Kalau hari ini, generasi kita menolak berjuang dan menderita, respon terhadapnya tidak semestinya berhenti pada umpatan: “mereka memang tidak mau menderita”. Mengapa tidak boleh berhenti di sana? Ini bukan sekadar trend. Ini persoalan basis berkaitan dengan sesuatu yang hakiki. Sesuatu itu adalah nilai dan makna penderitaan. Nilai dan makna itu hilang, menguap dari dalam keluarga, dalam masyarakat hingga dari negara sekaligus. Hingga dunia dengan kemajuan tekonologi menghegemoni kesejatian manusia, manusia dibujuk untuk tunduk pada trend, suasana, dan gaya. Paus Leo XIV mengatakan bahwa AI memang membantu tetapi juga membutuhkan bimbingan. Sebab AI mensimulasikan keseluruhan watak manusia tetapi tidak menggantikan afektif, relasional, spiritual kekhasan manusia, melaluinya manusia bertumbuh dalam kebijaksanaan.

Maka, hari ini kita tidak boleh hanya memuja kecerdasan dan jalan pikiran yang tidak dibimbing oleh prinsip-prinsip etik. Umat beriman (Katolik) harus kembali kepada dan melalui jalan-jalan panjang, jalan salib, jalan penderitaan, jalan kesabaran. Jalan inilah yang boleh menjadi cermin untuk setiap fanatisme yang melihat segalanya dalam bingkai sederhana dan simpel, dalam bingkai hitam dan putih. Dengan itu, keruntuhan Menara Babel tidaklah boleh dipandang usang atau kuno semata, melainkan membacanya sebagai kisah sejarah yang menggugat. Kisah ini memprovokasi kita untuk tetap menjadi sungguh manusia dengan keterbatasannya. Persekutuan tidak dibentuk dari sikap memegahkan diri, melainkan dari kesadaran akan batas diri dan ketaksunggupan berjalan sendiri. Allah kita itu Allah persekutuan yang merupakan simbol dari niscayanya sebuah relasi, dialog, dan cinta.

Dengan kisah Babel kita diingatkan sejarah tentang keruntuhan dan kekacauan tanpa rujukan pada Allah, dan dengan kisah Nehemia kita diingatkan dan dipanggil untuk berjalan bersama. Dengan kisah Babel kita diingatkan untuk tetap menjadi manusia, dan dengan kisah Nehemia kita diingatkan untuk mengambil tanggung jawab bersama bagi perdamaian dunia dan keutuhan ciptaan.   

Pada zaman di mana perkembangan tekonologi tidak berjalan bersama dengan prinsip-prinsip etik oleh kepentingan segelintir orang, Paus Leo XIV mengingatkan kita bahwa pilihan utamanya bukanlah antara “ya” atau “tidak” terhadap teknologi, melainkan antara membangun Babel atau membangun kembali Yerusalem; antara sebuah kuasa yang mengklaim mendominasi langit dan suatu bangsa yang bekerja bersama dalam hadirat Allah untuk membangun kembali tembok-tembok kehidupan bersama yang penuh persaudaraan (MH. 9).

Rujukan: Ensiklik Magnifica Humanitas 7-10

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT