
Minggu, 03 Mei 2026, Pekan V Paskah, Warna Liturgi: Putih; Bacaan I: Kis 6:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2.4-5.18-19; Bacaan II: 1Ptr 2:4-9; Bait Pengantar Injil: Yoh 14:6; Bacaan Injil: Yoh 14:1-12
Bacaan I (Kis 6:1-7)
Mereka memilih tujuh orang yang penuh dengan Roh Kudus.
Bacaan dari Kisah Para Rasul:
Di kalangan jemaat di Yerusalem, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena dalam pelayanan sehari-hari pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan.
Berhubung dengan itu kedua belas rasul memanggil semua murid berkumpul dan berkata, "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, sehingga kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman."
Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat. Lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas, dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka itu dihadapkan kepada para rasul, lalu para rasul pun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka. Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak, juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.
Demikianlah sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan (Mzm 33:1-2.4-5.18-19)
Refren: Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.
*Bersorak-sorailah dalam Tuhan, hai orang-orang benar! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang jujur. Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali!
*Sebab firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
*Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takwa, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya; Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.
Bacaan II (1Ptr 2:4-9)
Kamulah bangsa yang terpilih, kaum imam yang rajawi.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Petrus:
Saudara-saudara terkasih, datanglah kepada Kristus, batu yang hidup, yang dibuang oleh manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah. Biarlah kamu pun dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani, yang berkenan kepada Allah karena Yesus Kristus. Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.
Karena itu, bagi kamu yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya, "Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru; juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan." Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan memang sudah ditentukan untuk itu. Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, kaum imam yang rajawi, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. Maka kamu harus memaklumkan perbuatan-perbuatan agung Allah. Ia telah memanggil kamu keluar dari kegelapan masuk ke dalam terang-Nya yang menakjubkan.
Demikianlah sabda Tuhan.
Bait Pengantar Injil (Yoh 14:6)
Akulah jalan, kebenaran dan hidup, sabda Tuhan. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.
Bacaan Injil (Yoh 14:1-12)
Akulah jalan, kebenaran dan hidup.
Inilah Injil Suci menurut Yohanes:
Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke sana untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke sana dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat Aku berada, kamu pun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke sana." Kata Tomas kepada-Nya, "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke sana?"
Kata Yesus kepadanya, "Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."Kata Filipus kepada-Nya, "Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepada kami, dan itu sudah cukup bagi kami." Kata Yesus kepadanya, "Telah sekian lama Aku bersama-sama engkau, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa kepada kami.Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?
Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa.
Demikianlah sabda Tuhan.
Renungan
Apa yang terjadi ketika orang yang kita sayangi menyampaikan kata-kata amanat perpisahan sebelum ia pergi jauh atau benar-benar meninggalkan kita? Tentu saja kesedihan dan kecemasan yang dirasakan. Itulah yang juga dirasakan oleh para murid ketika Yesus menyampaikan amanat perpisahannya. Mereka merasa sedih. Selain itu mereka juga merasa cemas akan masa depan mereka sendiri. Kecemasan itu tampak pada pertanyaan-pertanyaan para murid, "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke sana?" “Kata Filipus kepada-Nya, "Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepada kami, dan itu sudah cukup bagi kami".” Mereka tidak rela Yesus berpisah dengan mereka.
Namun, dalam amanat perpisahan tersebut, Yesus meminta para murid untuk percaya kepada-Nya. Kata percaya itu diucapkan oleh Yesus berulang kali. Ia hendak memberi peneguhan kepada para murid yang akan ditinggalkan-Nya agar mereka tidak takut ataupun gelisah melainkan tetap tenang bersama-Nya. Selain itu, Ia juga hendak mengajak para murid untuk menjadikan Sabda-Nya dan Diri-Nya sebagai pegangan hidup mereka. Ia meminta para murid untuk menyandarkan hidup pada Tuhan dan mengandalkan Dia dalam situasi apapun. Sebab, setelah kepergian Yesus, para murid akan mengalami tantangan yang hebat.
Yesus secara tegas mengatakan, “Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu.” Persis, setelah Yesus pergi, para murid melakukan pekerjaan-pekerjaan yang telah Ia teladankan. Berbekal percaya kepada Kristus yang telah bangkit, para murid keluar dari rasa sedih dan kecemasan. Mereka mengalami perubahan menjadi pribadi-pribadi yang berani mewartakan Kristus. Rasa percaya kepada Kristus membawa transformasi (perubahan batin) pada diri para murid. Mereka tidak lagi merasa kehilangan, sebaliknya, berkobar-kobar untuk mewartakan Kristus.
Pewartaan itu meluas, bukan hanya untuk orang Yahudi di Palestina saja tetapi meluas menyentuh wilayah-wilayah lain. Bahkan karena luasnya pewartaan itu, para murid mengangkat Diakon-Diakon untuk melayani para janda dan yatim piatu. Komunitas pengikut Kristus bertambah besar, lebih besar dari komunitas mula-mula sewaktu Yesus masih ada bersama dengan mereka.
Percaya kepada Kristus seharusnya membawa perubahan dalam diri para pengikut-Nya. Perubahan dari hidup untuk diri sendiri (egois) menuju hidup untuk menjadi saksi Kristus dan mewartakan Kristus. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus, “Biarlah kamu pun dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani, yang berkenan kepada Allah karena Yesus Kristus.” Kita diajak untuk membangun Gereja melalui keterlibatan aktif kita di dalamnya. Sebab, sejatinya iman itu bertumbuh dan berkembang dalam relasi, baik dalam relasi dengan sesama maupun dengan Allah.
Maka pertanyaannya adalah, sejauh mana kita terlibat dalam hidup menggereja, baik di tingkat KBG maupun dalam paroki kita? Sejauh mana kita terlibat dalam membangun Gereja yang sesungguhnya? Atau kita hanya menjadi penonton (viewer) yang hobi berkomentar tanpa terlibat? Percaya pada Kristus mesti membawa perubahan dalam diri, membuat seseorang tergerak untuk terlibat aktif membangun tubuh Kristus, yakni Gereja.