
Pater Bovan, "Gerakan SAKTI semacam gerakan untuk menciptakan habitus baru bagi anak-anak untuk peduli terhadap bahaya sampah. Dalam jangka panjang gerakan ini mesti terarah pada pembentukan Bank Sampah. Karena itu semua pihak harus terus bersemangat dalam mengimplementasikan gerakan ini."
Ket. Foto: Implementasi Gerakan SAKTI oleh Siswa-siswa SDI dan SDK Karot
Ruteng (Paroki Karot) – Paroki St. Fransiskus Assisi
Karot melalui organisasi Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) giatkan
gerakan SAKTI (Satu Kresek Sampah Plastik Setiap Hari) sebagai alternatif
penanganan sampah di seputaran wilayah paroki Karot. Gerakan ini melibatkan
seluruh sekolah di wilayah Paroki Karot serta Dinas Lingkungan Hidup Manggarai
yang telah memfasilitasi gerakan ini sejak dicanangkan di Aula paroki tersebut,
Rabu (1/4/2026).
Pastor Paroki Karot, Pater Bovan, OFM mengatakan bahwa
gerakan SAKTI ini merupakan salah satu bentuk kepeduliaan terhadap bahaya
sampah yang selama ini berserakan di sekitar wilayah parokinya. Oleh karena
itu, lanjutnya, hadirnya gerakan SAKTI ini boleh dipandang sebagai kiat untuk
membangun kebiasaan baru sekaligus mendidik prilaku kita.
“Program ini sudah berjalan selama tiga minggu. Seluruh sekolah di wilayah Paroki Karot sudah mengagendakan gerakan ini dalam kurikulum mereka. Setiap hari Rabu dan Sabtu, para guru dan siswa meluangkan waktu untuk mengumpulkan sampah-sampah di sekitar lingkungan mereka masing-masing,” jelas Pater Bovan.
Ketua WKRI Karot, Sekundina Sema yang menginisiasi gerakan
ini menjamin keberlanjutan gerakan ini. Menurutnya, gerakan SAKTI merupakan
sebuat kiat membangun kebiasaan yang bila dikawal konsistensinya akan menjadi
budaya.
“Bukan hanya di Karot, saya kira gerakan SAKTI ini bisa
menjadi gerakan bersama. Bila semua sekolah menjadi penggerak, maka gerakan ini
bisa menjangkau sasaran yang lebih luas, terutama untuk mendukung Kota kita
sebagai Kota Molas,” katanya.
Sema juga berkomitmen untuk mendukung keberlanjutan gerakan ini. “WKRI akan terus memantau langsung implementasi gerakan ini. Karena itu, kami akan terus berkoordinasi dengan DLH Manggarai untuk sarana penampung dan pengangkutan dari sampah yang dikumpulkan para siswa,” demikian Sema.
Lebih lanjut, untuk mendukung implementasi gerakan SAKTI ini, demikian Sema, akan dilakukan juga sosialisasi kepada masyarakat dengan menggunakan pelbagai platform media yang ada. Sosialisasi atau kampanye rutin memungkinkan gerakan ini menjadi gerakan bersama mulai dari rumah para warga.
“Sampah yang bertebaran hingga ke sekolah ini juga bersumber
dari rumah. Himbauan-himbauan yang akan kita bagikan secara rutin memungkinkan
anak-anak dididik untuk tertibkan sampah mulai dari rumah mereka
masing-masing,” ungkap Sema. (Sipri Kantus)